Selasa, 19 April 2011

Rabu, 16 Maret 2011

menjelaskan


Pengertian Varias Gaya Mengajar
a. Menurut Uzer Usman variasi adalah suatu kegiatan guru dalam kontek proses interaksi belajar mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosananmurid, sehingga dalam situasi belajar mengajar. Murid senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme serta penuh partisipasi.
b. Menurut Abu Ahmadi gaya mengajar adalah tingkah laku, sikap dan perbuatan guru dalam melaksanakan proses pengajaran.
c. Menurut Abdul Qadir Munsyi, gaya mengajar adalah gaya yang dilakukan guru pada saat mengajar di muka kelas.
d. Menurut Syahminan Zaini, gaya mengajar adalah gaya atau tindak-tanduk guru sebagai pernyataan kepribadiannya dalam menyampaikan bahan pelajarannya kepada siswa.
Variasi adalah keanekaan yang membuat sesuatu tidak monoton. Variasi di dalam kegiatan pembelajaran dapat menghilangkan kebosanan, meningkatkan minat dan keingintahuan siswa, melayani gaya belajar siswa yang beragam, serta meningkatkan kadar keaktifan siswa.Dari definisi di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa variasi gaya mengajar adalah pengubahan tingkah laku, sikap dan perbuatan guru dalam kontek belajar mengajar yang bertujuan untuk mengatasi kebosanan siswa, sehingga siswa memiliki minat belajar yang tinggi terhadap pelajarannya. Dan ini bisa dibuktikan melalui ketekunan, antusiasme, keaktifan mereka dalam belajar dan mengikuti pelajarannya di kelas. Anak tidak bisa dipaksakan untuk terus menerus memusatkan perhatiannya dalam mengikuti pelajarannya, apalagi jika guru saat mengajar tanpa menggunakan variasi alias monoton yang membuat siswa kurang perhatian, mengantuk, dan bosan. Untuk mengatasi kebosanan siswa tersebut perlu adanya variasi, dalam keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar ada tiga aspek, yaitu :
1) Variasi gaya mengajar
2) Variasi dalam menggunakan media
3) Variasi dalam interaksi antara guru dengan siswa.
Dari ketiga aspek ini, penulis hanya membahas atau menguraikan tentang variasi gaya mengajar. Variasi ini meliputi : variasi suara, variasi gerak badan atau mimik, kontak pandang, ekspresi wajah, penekanan atau kesenyapan, pergantian atau posisi guru. Dengan adanya penggunaan variasi gaya mengajar ini diharapkan dalam proses belajar mengajar akan menjadi dinamis dan meningkatkan perhatian siswa, membangkitkan keinginan (minat) belajar siswa.
Tujuan dan Manfaat Variasi Gaya Mengajar
a. Tujuan Variasi Gaya Mengajar :
1) Me ningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap relevensi terhadap proses belajar mengajar
Dalam proses belajar mengajar, perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan guru merupakan masalah yang sangat penting, karena dengan perhatian tersebut akan mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tujuan tersebut akan tercapai bila setiap siswa mencapai penguasaan terhadap materi yang diberikan dalam suatu pertemuan di kelas.
Dalam jumlah siswa yang banyak, biasanya sulit atau sukar untuk mempertahankan agar perhatian siswa tetap pada materi yang diberikan. Memang ada banyak faktor yang mempengaruhinya, misalnya ; faktor penjelasan guru yang kurang mengenai sasaran, faktor gaya guru dalam mengajar yang tanpa ada variasinya, dan lain sebagainya. Jadi, masalah perhatian siswa terhadap pelajaran tidak bisa dikesampingkan dalam konteks pencapaian tujuan pembelajaran.
Oleh karena itu, guru hendaknya memperhatikan variasi gaya mengajarnya, apakah sudah dapat meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap materi yang dijelaskan atau belum.
2) Memberi kesempatan
Memberi kesempatan kemungkinan berfungsinya motivasi dalam belajar, motivasi memegang peranan yang sangat penting, karena
tanpa motivasi seorang siswa tidak akan melakukan kegiatan belajar. Motivasi ada 2, yaitu : motivasi intrinsik (dari dirinya sendiri) dan motivasi ekstrinsik (dari luar dirinya sendiri).
Dalam proses belajar mengajar di kelas, tidak setiap siswa didalam dirinya ad motivasi intrinsik yakni kesadarannya sendiri untuk memperhatikan penjelasan guru, rasa ingin tahu lebih banyak terhadap materi yang diberikan guru. Dalam pertemuan dikelas ada juga siswa yang tidak ada motivasi dalam dirinya (Intrinsik), masalah inilah yang sering dihadapi guru. Guru selalu dihadapkan masalah motivasi yakni motivasi ekstrinsik, yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Jadi siswa yang tidak ada motivasi didalam dirinya (intrinsik) memerlukan motivasi ekstrinsik untuk me;lakukan kegiatan belajar. Disinilah peranan guru lebih dituntut untuk memerankan motivasi, yaitu
motivasi sebagai alat mendorong siswa untuk berbuat, sebagai alat untuk menentukan arah dan sebagai alat untuk menyeleksi kegiatan.
3) Membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolahTidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan yang ada di kelas yakni adanya siswa atau siswi yang kurang senang terhadap dirinya. Sikap negatif ini bisa jadi disebabkan gaya guru mengajar yang kurang bervariasi, gaya mengajar guru tidak sejalan dengan gaya belajar siswa. Konsekwensinya bidang studi yang
dipegang guru tersebut menjadi tidak disenangi. Mungkin bisa ditunjukkan dari sikap acuh tak acuh siswa ketika guru tersebut sedang menjelaskan materi pelajaran di kelas.
Ketika mengajar, guru selalu duduk dengan santai dikelas tanpa memperdulikan tingkah laku siswa atau ank didiknya. Ini adalah jalan pengajaran yang sangat membosankan. Dalam hal ini guru gagal menciptakan suasana belajar yang membangkitkan kreatifitas dan kegairahan belajar siswa. Guru yang bijaksana adalah guru yang pandai menempatkan diri dan mengambil hati siswanya. Dengan sikap ini siswa merasa diperhatikan oleh guru. Siswa juga ingin selalu dekat
dengan dengan guru. Guru yang dirindukan siswa biasanya dikarenakan gaya mengajarnya dan pendekatannya sesuai dengan psikologis siswa. Variasi gaya mengajarnya mempunyai relevansi dengan gaya belajar siswa.
4. Memberi kemungkinan pilihan dan fasilitas belajar individuaSebagai seorang guru dituntut untuk mempunyai berbagai keterampilan yang mendukung tugasnya dalam mengajar. Terutama keterampilan bervariasi, untuk mengembangkan keterampilan variasi mengajar ini, guru hendaklah menguasai penggunaan media, berbagai pendekatan dalam mengajar, berbagai metode mengajar. Dengan penguasaan tersebut, akan memudahkan guru melakukan pengembangan variasi mengajar dan memberi kemungkinan guru untuk memilih mana yang kebih tepat yang dapat menunjang tugasnya mengajar dikelas.Fasilitas merupakan kelengkapan belajar yang harus ada di sekolah, fungsinya sebagai alat bantu pengajaran. Lengkap tidaknya fasilitas belajar mempengaruhi pemilihan yang harus dilakukan. Misalnya ; kurangnya fasilitas dalam bidang studi IPA (Fisika, Biologi). Mungkin tidak adanya laboratorium Fisika ini menyebabkan kurangnya kemampuan metode eksperimen. Maka, alternatif yang sangat terpaksa guru lakukan adalah memilih metode ceramah atau tanya jawab yang sebenarnya kurang sesuai dengan mata pelajarannya.
5. Mendorong anak didik untuk belajarMenyediakan lingkungan belajar adalah tugas guru, kewajiban menyatu dalam sebuah interaksi pengajaran yang mana memerlukan lingkungan yang kondusif yakni lingkungan yang mampu mendorong anak didik untuk selalu belajar hingga berakhirnya kegiatan belajar mengajar.Belajar memang memerlukan motivasi sebagai pendorong anak didik. Namun sayangnya jarang ditemukan bahwa anak didik mempunyai motivasi yang sama terutama motivasi intrinsik. Dari perbedaan mitivasi inilah terlihat dari sikap dan perbuatan siswa dalam menerima pelajaran ada yang senang, ada yang kurang senang. Dengan gejala tersebut bisa menghambat proses belajar mengajar.
Disinilah diperlukan peranan guru sebagai upaya menciptakan lingkungan belajar yang mampu mendorong anak didik untuk senang dan bergairah dalam belajar. Untuk hal ini cara yang akurat yang mesti guru lakukan adalah mengembangkan variasi mengajar, baik itu dalam belajar mengajar maupun dalam hal ini yang bersangkutan dengan pengajaran . karena dengan variasi tersebut bisa menyeret anak didik untuk meningkatkan gairah belajar mereka dan menarik pengalaman dari berbagai tingkat kognitif.
Manfaat Variasi Gaya Mengajar
Mengajar menuntut guru untuk bekerja demi keberhasilan anak didiknya, sehingga kemajuan murid menjadi titik perhatian guru. Rasulullah SAW. menerapkan pengajaran yang sangat memperhatikan perkembangan siswa (sahabat)nya, agar mereka tidak merasa jemu dalam belajar, tersirat dalam hadits :Artinya : Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud berkata : Nabi SAW. berselang-seling dalam memberikan pelajaran agar terhindar dari kebosanan. (H.R.Bukhari).
Jika dilihat dari hadits diatas, variasi gaya mengajar sudah ada sejak zaman Nabi SAW. sedangkan manfaat dari variasi tersebut menurut Uzer Usman adalah :
1) Untuk menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa kepada aspek-aspek belajar yang relevan.
2) Untuk memberikan kesempatan bagi perkembangan bakat ingin tahu dan ingin menyelidiki siswa tentang hal-hal baru.
3) Untuk memupuk dan membentuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai gaya mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang baik.
4) Guna memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh cara menerima pelajaran yang disenanginya.
Manfaat Variasi menurut JJ Hasibuan adalah :
1) Memelihara dan meningkatkan siswa yang berkaitan dengan aspek belajar
2) Meningkatkan kemungkinan berfungsinya motivasi ingin tahu melalui kegiatan investigasi dan eksploitasi.
3) Membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah.
4) Kemungkinan dilayaninya siswa secara individual sehingga memberi keindahan belajar.
5) Mendorong aktivitas belajar dengan cara melibatkan siswa dengan berbagai kegiatan atau pengalaman belajar yang menarik dan berbagai tingkat kognitif.
Sebenarnya dari pendapat diatas, yakni mengenai manfaat variasi gaya mengajar adalah sama. Hanya saja bahasanya berbeda. Jadi, jika diambil intisarinya manfaat variasi gaya mengajar adalah :
1) Meningkatkan, menimbulkan dan memelihara perhatian siswa terhadap aspek-aspek belajar yang relevan.
2) Memberi kesempatan untuk meningkatkan dan berkembangnya bakat ingin tahu dan berfungsinya motivasi belajar.
3) Memupuk dan membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai gaya mengajar yang lebih hidup.
4) Memberi pelayanan yang baik kepada siswa secara individual dalam menerima pelajaran agar mudah dan senang belajar.
5) Mendorong aktivitas belajar dengan cara melibatkan siswa dengan berbagai kegiatan atau pengalaman belajar yang menarik diberbagai tingkat kognitif.
Prinsip Penggunaan Variasi
Dalam proses belajar mengajar, kegiatan siswa menjadi pusat perhatian guru. Untuk itu agar kegiatan pengajaran dapat merangsang siswa untuk aktif dan kreatif belajar tentu saja diperlukan lingkungan belajar yang kondusif.
Salah satu upaya kearah itu adalah dengan cara memperhatikan beberapa prinsip penggunaan variasi dalam mengajar. Prinsip-prinsip tersebut adalah :
a. Variasi hendaknya digunakan dengan suatu maksud tertentu yang relevan dengan tujuan yang hendak dicapai. Dalam menggunakan keterampilan variasi sebaiknya semua jenis variasi digunakan. Disamping itu juga harus ada variasi penggunaan komponen untuk tiap jenis variasi, terutama penggunaan variasi gaya mengajar, dalam bervariasi harus disesuaikan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan agar menarik siswa untuk memperhatikan atau mendengarkan penjelasan guru.
b. Variasi harus digunakan secara lancar dan berkesinambungan, sehingga tidak akan merusak perhatian siswa dan tidak menganggu proses belajar mengajar.
c. Direncanakan secara baik dan eksplisit dicantumkan dalam rencana pelajaran. Jadi penggunaan variasi ini harus benar-benar berstruktur dan direncanakan. Karena variasi ini memerlukan keluwesan, spontan sesuai dengan umpan balik yang diterima dari siswa. Umpan balik ini ada dua yaitu :
1) Umpan balik tingkah laku yang menyangkut perhatian dan keterlibatan siswa.
2) Umpan balik informasi tentang pengetahuan dan pelajaran.
5. Komponen-Komponen Variasi Gaya Mengajar
Dalam mengajar hendaknya menggunakan berbagai macam variasi gaya.
Dengan variasi gaya tersebut, akan menjadikan siswa merasa tertarik terhadap
penampilan mengajar guru. Variasi gaya mengajar guru ini meliputi
komponen-komponen sebagai berikut :
b. Variasi suara
Variasi suara dalah perubahan suara dari keras menjadi lemah, dan tinggi menjadi rendah, dari cepat menjadi lambat.Suarang guru pada saat menjelaskan materi pelajaran hendaknya bervariasi, baik dalam intonasi, volume, nada dan kecepatan. Jika suara guru senantiasa keras terus atau terlalu keras, justru akan sulit diterima, karena siswa menganggap gurunya seorang yang kejam, bila sudah begitu siswa diliputi oleh rasa cemas, ketakutan selama belajar.
Masalah seperti ini yang harus dihindari bahkan ditiadakan. Tapi kalau suara guru terlalu lemah (biasanya guru wanita) akan terdengar tidak jelas oleh siswa dan tidak bisa menjangkau seluruh siswa di kelas, apalagi yang duduknya dideretan belakang. Bila sudah begitu siswa akan meremehkan gurunya, perhatian siswa terhadap materi yang diberikan itupun kurang. Untuk itu guru menggunakan variasi suara yang disesuaikan ndengan situasi dan kondisi. Jadi suara guru senantiasa berganti-ganti, kadang meninggi, kadang cepat, kadang lambat, kadang rendah (pelan).
Variasi suara bisa mempengaruhi informasi yang sangat biasasekalipun, gunakanlah bisikan atau tekanan suara untuk hal-hal penting, gunakan kalimat pendek yang cepat untuk menimbulkan semangat.
Lagu bicara atau intonasi suara mempunyai pengaruh pada dayatangkap siswa terhadap pembicaraan guru. Lagu bicara yang datar (monoton) akan membosankan siswa, sehingga siswa cepat lelah dalam mendengarkan. Demikian pula lagu bicara yang naik turun atau bersendat-sendat. Hal seperti ini sering menjadi bahan tertawaan siswa dan cenderung ditirukan dengan maksud mengejek, akibatnya konsentrasi mereka rusak. Disini juga menganjurkan adanya tekanan bicara, yang mana diberikan pada hal-hal yang penting, misalnya dalam menyebutkan definisi, istilah, nama, rumus, dan kata-kata asing dengan ucapan
pelan-pelan dan jelas dengan volume suara yang cukup. Kelancaran bicara juga patut diperhatikan karena mempunyai pengaruh yang besar pada daya tangkap siswa.
Jadi, seyogyanya sebelum satu kalimat dikeluarkan atau dibicarakan lebih dulu difikirkan susunan yang benar ditinjau dari segi tata bahasa. Ucapan bahasa daerah sebaiknya tidak dipergunakan.
Setelah membaca uraian diatas kita tahu betapa pentingnya suara guru untuk diperhatikan, karena merupakan alat komunikasi yang penting dalam interaksi edukatif, memang berbicara didepan kelas tidak dapat disamakan dengan orang yang berpidato didepan masa dan orang yang membaca puisi, karena guru menganggap siswa itu sebagai lawan bicara. Sehingga terlibat kontak batiniah masing-masing individu.
c. Pemusatan perhatian
Perhatian menurut Ghozali adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itupun semata-mata tertuju kepada suatu obyek (benda/hal) atau sekumpulan obyek.
Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang diajarinya, jika materi yang disampaikan oleh guru iru tidak menjadi perhatian siswa, maka bisa menimbulkan kebosanan, sehingga tidak lagi suka belajar. Untuk memfokuskan perhatian siswa pada suatu aspek yang penting atau aspek kunci, guru dapat menggunakan atau memberikanperingatan dengan bentuk kata-kata. Misalnya : “Perhatikan baik-baik”, “Jangan lupa ini dicatat dengan sungguh-sungguh” dan sebagainya.Memang menarik perhatian siswa itu sangatlah tidak mudah apalagi dalam jumlah siswa yang banyak, agar perhatian itu tetap ada perlu adanya prinsip-prinsip yakni :
1) Perhatian seseorang tertuju atau diarahkan pada hal-hal yang baru, jenis rangsangan baru yang dapat menarik perhatian termasuk warna dan bentuk. Dalam pelajaran, seorang guru dapat menarik perhatian tentang kata-kata
penting pada suatu bacaan dengan memberi warna merah atau digaris bawahi.
2) Perhatian seseorang tertuju tau terarah pada hal-hal yang dianggap rumit. Bagi guru yang harus diingat adalah suatu pelajaran tidak boleh tampak terlalu rumit dan guru tidak boleh mempersulit pelajaran yang sederhana dikarenakan semata-mata untuk menarik perhatian siswa.
3) Orang mengarahkan perhatiannya pada hal-hal yang dikehendakinya, yaitu hal-hal yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Untuk menimbulkan minat tersebut ada dua cara yakni dari diri sendiri dan dari luar dirinya. Dari luar bisa saja lingkungan, orang tua dan guru. Disini gurulah yang berhak menimbulkan atau membangkitkan minat belajar siswa baik dirumah maupun dikelas.
Dari ketiga prinsip ini guru harus mengetahui banyak tentang siswanya agar bisa mengarahkan perhatian siswa terhadap materi pelajaran, sehingga siswa memiliki minat belajar yang tinggi guru dalam memusatkan perhatian siswa bisa dengan memberikan kata-kata seperti : “coba perhatikan ini baik-baik”, karena materinya agak sulit dan sebagainya.
d. Kesenyapan atau kebisuan guru (Teaching Silence)
Kesenyapan adalah suatu keadaan diam secara tiba-tiba demi pihak guru ditengah-tengah menerangkan sesuatu.
Adanya kesenyapan tersebut merupakan alat yang baik untuk menarik perhatian siswa. Dengan keadaan senyap atau diamnya guru secara tiba-tiba bisa menimbulkan perhatian siswa, sebab siswa begitu tahu apa yang terjadi dan demikian pula setelah guru memberikan pertanyaan kepada siswa alangkah bagusnya apabila diberi waktu untuk berfikir dengan memberi kesenyapan supaya siswa bisa mengingat kembali informasi-informasi yang mungkin ia hafal, sehingga bisa menjawab pertanyaan guru dengan baik dan tepat.Pemberian waktu bagi siswa digunakan untuk mengorganisasi jawabannya agar menjadi lengkap. Tapi jika seorang guru tidak memberikan kesenyapan atau waktu kepada siswa untuk berfikir dalam menjawab pertanyaannya siswa akan menjawab dengan asal alias asal bicara, sehingga jawabannya kurang tepat dengan pertanyaan. Untuk itu seyogyanya guru memberikan kesenyapan terhadap siswa untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan yang diajukannya supaya jawabannya sempurna dan tepat.
e. Kontak pandang
Ketika proses belajar mengajar berlangsung, jangan sampai guru menunduk terus atau melihat langit-langit dan tidak berani mengadakan kontak mata dengan para siswanya dan jangan sampai pula guru hanya mengadakan kontak pandang dengan satu siswa secara terus menerus tanpa memperhatikan siswa yang lain. sebaliknya bila guru berbicara atau menerangkan hendaknya mengarahkan pandangannya keseluruh kelas atau siswa, sebab menatap atau memandang mata setiap anak disik atau siswa bisa membentuk hubungan yang positif dan menghindari hilangnya kepribadian. Bertemunya pandang diantara mereka yang berinteraksi, sesungguhnya merupakan suatu etika atau sopan santun pergaulan karena menunjukkan saling perhatian diantara mereka.
Hal-hal yang harus dihindari guru selama presentasinya didepan kelas :
1) Melihat keluar ruang
2) Melihat kearah langit-langit
3) Melihat kearah lantai
4) Melihat hanya pada siswa tertentu atas kelompok siswa saja
5) Melihat dan menghadap kepapan tulis saat menjelaskan kecuali sambil menunjukkan sesuatu.
Hal-hal diatas bertujuan supaya bisa mengendalikan situasi kelas dengan baik.
Jadi dalam kontak pandang
hendaknya guru berusaha seintim mungkin agar siswa merasa diperhatikan dan dihargai, kontak mata yang sering dilakukan, akan membangun dan membina jalinan tingkat tinggi, yaitu mengetahui psikologi anak atau siswa dan mengetahui seberapa banyak pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan. Untuk itu, pandanglah siswa-siswa anda secara merata tapi jangan berlebihan, gunanya pandangan mata, seorang guru adalah untuk menarik perhatian dan minat belajar siswa.
f. Gerakan anggota badan atau mimic
Variasi dalam ekspresi wajah guru, gerakan
kepala, gerakan tangan dan anggota badan lainnya adalah aspek yang sangat penting dalam berkomunikasi, gunanya adalah untuk menarik perhatian dan untuk menyampaikan arti dari pesan lisan yang dimaksudkan untuk memperjelas
penyampaian materi.
Orang akan lebih jelas dalam memahami sesuatu menggunakan indera pendengar dan disertai indera penglihatan atau mata, semakin banyak indera yang digunakan hasilnya semakin baik.
Begitu pula siswa, jika seorang guru yang mengajarnya hanya mematung dan menggunakan mulutnya saja, tanpa menggerakkan anggota badan akan memberi kesan buruk, suasana hampa dan tidak hidup, sehingga siswa cepat bosan, sebaliknya jika gerakan-gerakan guru terlalu over acting dalam memberi pengajaran juga akan berakibat buruk, disini gerakan-gerakan guru sebagian besar menjadi pusat perhatian siswa, jika gerakannya terarah, siswa merasa senang dalam mengikuti pelajaran tersebut. Jadi gerakan yang baik adalah gerakan yang efisien dan efektif artinya gerakan yang cukup, tetapi benar-benar mendukung penjelasan atau uraian guru. Gerakan-gerakan tersebut bias dengan menganggukkan kepala untuk menunjukkan setuju, dan sebaliknya jari dan tangan berarti “tidak” dan sebagainya.
Gerakan tangan menulis dipapan tulis itu juga memerlukan latihan, walaupun kelihatan diremehkan, sekarang ini banyak guru yang tidak begitu memperhatikan tulisannya dipapan tulis, padahal tulisannya itukurang jelas, naik turun, hal ini bias mempengaruhi kebosanan siswa.Tidak semua gerakan anggota badan itu baik dalam arti esuai, ada gerakan yang biasa dilakukan tapi perlu dihindari, seperti menggaruk-garuk badan, memegang celana tanpa alasan yang benar, menghapus atau menggosok hidung dan lain sebagainya. Jadi, suatu gerakan dalam proses belajar mengajar yang dilakukan guru pada saat menerangkan materi, harus relevan dengan materi yang disampaikan dan itu tidak boleh terlalu berlebihan. Secukupnya saja, begitu juga dengan ekspresi wajah-wajah anda adalah alat komunikasi yang kuat.
Pesan non verbal yang disampaikan melalui alis terangkat, sunggingan sebyum, dahi berkerut, cemberut itupun mempengaruhi siswa dalam belajar, jika selama proses belajar mengajar berlangsung. Seorang guru memasang wajah sedih, cemberut, siswa akan tampak ketakutan. Suasana kerasa mencekam dan tegang. Suasana seperti ini bias mematikan kreatifitas belajar siswa. Ide atau keinginan yang positif menjadi kandas ditengah jalan, untuk itu sebaliknya jika seorang guru punya masalah pribadi jangan ditampakkan didepan kelas saat mengajar. Mungkin dengan memasang
wajah yang cemberut, marah, sedih ini sangat mempengaruhi suasana kelas, jadi, seorang guru harus pandai mengendalikan emosinya dan jika sudah masuk, guru seharusnya memasang wajah yang penuh semangat, ceria, dan mendukung suasana belajar yang kondusif, agar siswa tertarik dan bersemangat dalam mengikuti pelajaran yang akan disampaikannya.
g. Perpindahan posisi guruPerpindahan posisi guru dalam ruang kelas dapat membantu dalam menarik perhatian anak didik, dapat pula meningkatkan kepribadian guru dan hendaklah selalu diingat oleh guru, bahwa perpindahan posisi itu jangan dilakukan secara berlebihan. Bila dilakukan berlebihan guru akan kelihatan terburu-buru, lakukan saja secara wajar agar siswa bias memperhatikan.
Perpindahan posisi dapat dilakukan dari muka ke bagian belakang, dari sisi kiri ke sisi kanan, atau diantara anak didik dari belakang kesamping anak didik. Dapat juga dilakukan dengan posisi berdiri kemudian berubah menjadi posisi duduk dan diam di tempat lalu berjalan-jalan mengelilingi siswa dan sebagainya. Yang penting dalam perubahan posisi itu harus ada tujuannya, dan tidak sekedar mondar-mandir dan seorang guru janganlah melakukan kegiatan mengajar dengan satu posisi, misalnya saja saat menerangkan guru hanya berdiri didepan kelas saja atau duduk dikursi saja, tanpa ada pergantian atau variasi ini bisa menimbulkan kebosanan siswa.
Guru melakukan pergantian posisi, sebaiknya jangan kaku atau kikuk, lakukan saja secara bebas dan wajar bisa menarik
perhatian siswa, jika guru kaku dalam bergerak ini bisa menjemukan siswa. Dan bila variasi dilakukan secara berlebihan itu juga bisa mengganggu perhatian siswa atau konsentrasi siswa terhadap pelajaran.
Maka dari itu gunakanlah variasi posisi ini secara wajar dan sesuaikan dengan tujuan, tidak sekedar mondar-mandir.
6. Model-Model Belajar
Dalam melaksanakan variasi gaya mengajar, guru hendaknya memperhatikan dan memahami gaya atau model-model belajar siswanya, supaya siswa termotivasi, bersemangat dan berminat dalam belajar. Adapun model-model belajar ada tiga macam, yaitu :
a. Visual
Bagi pelajar visual,
belajar yang efektif adalah dengan menggunakan “gambaran keseluruhan” (melakukan tinjauan umum), yakni dengan membaca bahan pelajaran secara sekilas. Cirri-ciri pelajar visual :
1) Teratur, memperhatikan segala sesuatu
2) Mengingat dengan gambar, grafik dan warna untuk meningkatkan memorinyaDari ciri-ciri diatas, guru dituntut untuk lebih kreatif dalam menyajikan bahan pelajaran, guru harus bisa menggunakan gambar, warna, untuk menumbuhkan minat belajar siswa dan meningkatkan memori siswa terhadap bahan tersebut. Gaya mengajar guru yang mudah mempengaruhi siswa ini adalah kontak pandang, perpindahan posisi dan eksperimen wajah.
b. Auditorial
Bagi pelajar auditorial, belajar yang efektif adalah dengan mendengar. Untuk itu guru disaat menerangkan dituntut untuk menggunakan variasi, pemusatan, perhatian dan kesenyapan memudahkan dan meningkatkan perhatian siswa dalam belajar.Ciri-ciri siswa auditorial adalah :
1) Perhatiannya mudah terpecah
2) Berbicara dengan pola berirama
3) Belajar dengan cara mendengar
4) Berdialog secara internal dan eksternal
c. Kinestetik
Bagi pelajar kinestetik, belejar yang efektif adalah dengan melibatkan diri langsung dengan aktifitasnya, jadi merekacenderung pada eksperimen (gerak).Ciri-ciri siswa kinestetik adalah :
1) Belajar dengan melakukan, menunjuk tulisan saat membaca
2) Mengingat sambil melihat langsungDisini guru dianjurkan melibatkan siswa saat proses belajar mengajar berlangsung, menggunakan metode eksperimen, bahasa tubuh guru hendaknya bervariasi, supaya menarik perhatian
siswa dan mempermudah pemahaman siswa terhadap materi tersebut.
Referensi
1. Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1992), Cet. 4
2. Goerge Brown, Pengajaran Mikro: Program ketrampilan mengajar, (Surabaya: Airlangga University Press, 1991)
3. Richard Kindsvatter, at.all, Dynamic of Effective Teaching, (New York, 1996)
4. Wiryawan, Sri Anitah dan Noorhadi. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: UT, 1999
5. Brown, George. Micro Teaching: A Programme of Teaching Skills. New York: Metheuen Inc., 1984
6. Cole, G. Peter and Lorna K.S. Chan. Teaching Principles and Practice. New York: Prentice Hall, 1990
7. Jacobsen, David, Paul Eggen and Donald Kauchak. Methods for Teaching: A Skills Approach. Ohio: Merril Publishing Company, 1989

Senin, 28 Februari 2011

BAB III


BAB III
METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian
1.          Waktu Penelitian
       Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih 3 (tiga) bulan, terhitung sejak bulan Januari 2011 sampai dengan Maret 2011
2.          Lokasi Penelitian
       Adapun yang menjadi lokasi tempat penelitian ini adalah Sekolah Dasar Negeri 009 Tembilahan Hulu.
a.        Sejarah Sekolah
58
 
       Sekolah Dasar Negeri 009 Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir merupakan salah satu bagian SD Negeri yang ada di Kabupaten Indragiri Hilir. Sekolah Dasar Negeri 009 Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir mempunyai kelebihan tersendiri baik dari prestasi sekolah maupun prestasi dari tenaga pendidiknya. Dengan keadaan tersebut maka sekolah ini menjadi tujuan para orang tua untuk menyekolahkan anaknya karena letaknya yang cukup strategis di Jalan Sapta Marga Tembilahan, sekolah ini mempunyai mutu yang relatif lebih baik dan menjadikannya salah satu sekolah favorit. SD Negeri 009 ini berdiri pada tahun 1975 dengan nama SD Negeri 033 Tembilahan yang berdiri atas swadaya dari Masyarakat. Pada awalnya dikepalai oleh Bapak SAFERI Setelah melalui proses yang panjang menjadi lebih baik akhirnya atas keputusan Pemerintah, Maka Sekolah Dasar Negeri 033 ini Resmi berganti nama menjadi Sekolah Dasar Negeri 009 Tembilahan Hulu.
       Untuk mengetahui kepala sekolah yang pernah menjabat di Sekolah Dasar Negeri 009 Tembilahan Hulu ini, dapat dilihat sebagai berikut:

TABEL III.1
KEPALA SEKOLAH YANG PERNAH MENJABAT
DI SEKOLAH DASAR NEGERI 009 TEMBILAHAN HULU
NO
NAMA KEPALA SEKOLAH
TAHUN
1
SAFERI
1975-1993
2
MARYULIS
1986-1999
3
JORUSMIDAR
1999-2010
4
KHAIDIR.S
2010- Sekarang
b.        Keadaan Guru Tahun 2010/2011
       Guru atau tenaga pengajar adalah merupakan tokoh penting di dalam lingkungan pendidikan. Tanpa guru yang baik sulit mendapatkan hasil atau tujuan pendidikan yang baik pula. Guru merupakan barometer keberhasilan serta maju tidaknya sekolah atau baik tidaknya kreativitas siswa tergantung dengan guru.
       Adapun jumlah guru termasuk Tenaga Administrasi dan Penjaga di Sekolah Dasar Negeri 009 Tembilahan Hulu yaitu 26 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

TABEL III.2
KEADAAN GURU TAHUN 2009/2010

NO 
NAMA /NIP
L/P
PANGKAT.RUANG TMT
JABATAN
PENDIDIKAN TERAKHIR TAHUN
KET
1
2
3
4
5
6
7
1.
KHAIDIR.S/
195604271980081001
LK
Pembina Tk.I IV.B
Kepala
D.11.2008

2.
Hj.ASMABAITI/
196012091981122001

PR
Pembina IV/a
1 Oktober 2003
Guru Kelas
D.II.2002

3.
MULYANI /
195909211981122001

PR
Pembina IV/a
1 Oktober 2003
Guru B.Studi
D.II.1998

4.
YUSLEINI /
195707151979102001

PR
Pembina IV/a
1 Oktober 2004
Guru Kelas
D.II.1997

5.
HJ.MASTAINI /
195905191981012001

PR
Pembina IV/a
01 Oktober 2006
Guru Kelas
D.II.2002

6.
ASMANIDAR /
195906141982101001
PR
Pembina IV/a
01-10-2006
Guru Kelas
D.II.2002



7.
Hj.LATIFAH, S.Pd /
196312311983102004

PR
Pembina IV/a
01 Oktober 2006
Guru Kelas
S1 Tahun 2008
Bahasa Indonesia

8.
ERNA NINGSIH, A.Ma/ 195812311983092017

PR
Pembina IV/a
01 April 2007
Guru PAI
D.II. 2000

9.
RATNAWATI, A.Ma.Pd/ 195912311985042002

PR
Pembina IV/a
16 Oktober 2003

Guru Kelas
D.II. 1997

10.
HENDRA  JAYA,S.Pd / 196308101986061001
LK
Pembina IV/a
01 April 2007
Guru Kelas
S1 Tahun 2008
Matematika

11.
TUTI ELIANI, S.Pd /
196210051988042001
PR
Pembina IV/a
1 April 2008
Guru B.Indonesia
S1 Tahun 2008
Bahasa Indonesia

12.
SULASTRI, S.Pd / 196808161989082002

PR
Pembina/IV.A
1 Oktober 2009

Guru Kelas
S.1 Sejarah. 2009

13.
LINDA, S.Pd / 196809051989082001

PR
Pembina/IV.A
1 Oktober 2009

Guru Kelas
S.1 Sejarah. 2009

14.
ASPERI, A.Ma / 195808081984102001

PR
Penata TkI.III/d
1 April 2008
Guru PAI
D.II.2000

15.
SUPARMI, S.Pd / 196912011993032004

PR
Penata III/C
1 April 2007

Guru Kelas
S1 Tahun 2008
Bahasa Indonesia

16.
ROSMINAH, S.Pd.SD / 196704291993102001

PR
Penata III/C
1 April 2008

Guru Kelas
D.II. 2002

17.
YULIDAR, A.Ma/ 197101051994082001
PR
Penata III/C
1 April 2008

Guru Kelas
D.II. 1994

18.
ISMI SISWATI, S.Pd
196810171998032002
PR
Penata Muda/III.A
Guru Kelas
S1. 2009

19.
JAMI’AH, S.Pd.I /  196312312000032016

PR
Penata Muda/ III.A
1 Oktober 2008
Guru Kelas
S.1 2005
PAI

20.
DESRI  YENTI,S.Pd.I

PR
Guru Kontrak Propinsi
Guru B.Studi
S.1 2010

21.
DEVI SOPIANIS, A.Ma
PR
Guru Kontrak Propinsi
Guru B.Studi
D.II

22.

RAWANI HARAHAP, S.Ag
PR
Honor komite
Guru B.Inggris
S.1. 1996

23.
KAMALUDDIN
LK
Honor komite

Guru Penjas
D.II. PGMI 2007

24.
TAMSIL ADOES
LK
Honor komite
Guru Penjas
D.II 2003

25.
FADLI

LK
Honor komite
Guru PKn
SMK 2004

26.
BARSANI

LK
Honor komite
Penjaga
SR. 1959


Sumber  : Data Laporan Bulanan Sekolah Dasar Negeri 009 Tembilahan Hulu TP. 2010/2011



c.        Keadaan Siswa Tahun 2010/2011
       Siswa merupakan masyarakat di lingkungan pendidikan yang menjadi objek yang diajar oleh guru. Siswa juga memegang peranan penting, tanpa siswa maka proses belajar mengajar tidak akan bisa berjalan.
       Adapun jumlah siswa di Sekolah Dasar Negeri 009 Tembilahan Hulu yaitu 595 orang, adapun klasifikasinya sebagai berikut:

TABEL III.3
KEADAAN SISWA TAHUN 3 TAHUN TERAKHIR
NO
TAHUN PELAJARAN
KELAS
JLH
I
II
III
IV
V
VI
1
2008/2009
135
101
98
83
97
79
593
2
2009/2010
111
129
102
89
80
84
595
3
2010/2011
111
129
102
89
80
84
595
Sumber :   Laporan Bulanan Sekolah Dasar Negeri 009 Tembilahan Hulu.

d.        Sarana dan prasarana
     Sarana dan prasarana juga merupakan komponen penting dalam mempermudah mencapai tujuan pendidikan. Proses pembelajaran akan sulit dilaksanakan tanpa sarana dan prasarana yang memadai.
     Sarana dan prasarana merupakan segala peralatan, media dan apa saja yang terdapat disekolah.
       Adapun sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Sekolah Dasar Negeri 009 Tembilahan Hulu, sebagai berikut:
TABEL III.4
KEADAAN SARANA DAN PRASARANA
NO
SARANA DAN PRASARANA
JUMLAH
KETERANGAN
1
Ruang Belajar
6

Baik
2
Ruang Kepala Sekolah
1
Baik
3
Ruang Guru
1
Baik
4
Ruang Tamu

Baik
5
Ruang Gudang
1
Baik
6
WC
2
Baik
7
Lapangan Basket
1
Baik
8
Lapangan Volly
1
Baik
9

1
Baik
Sumber : Tata Usaha SD Negeri 009 Tembilahan Hulu TP. 2010/2011


e. Prestasi Yang Dicapai 3 Tahun Terakhir
       Adapun prestasi yang dicapai di Sekolah Dasar Negeri 009, dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
TABEL III.5
PRESTASI BELAJAR UASBN SISWA
NO
TAHUN PELAJARAN
RATA–RATA UASBN
Bhs. Ind
MTK
IPA
Jlh
Mean 
1
2007/2008
6.88
6.78
6.90
20.56
6.85
2
2008/2009
7.89
6.56
7.97
22.42
7.47
3
2009/2010
6.92
7.28
7.14
21.34
7.10


STRUKTUR ORGANISASI
SEKOLAH DASAR NEGERI 009 TEMBILAHAN HULU








 























f. Visi, Misi, Dan Tujuan Sekolah
1. Visi  Sekolah Dasar Negeri  009  Tembilahan Hulu
Text Box: “Mewujudkan sekolah unggul di Percaya  masyarakat dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa serta  mensukseskan wajib belajar 12 Tahun”


2. Misi  Sekolah Dasar Negeri  009 Tembilahan Hulu
1. Menyiapkan generasi penerus  yang memiliki potensi dibidang IMTAQ dan IPTEK.
2. Membentuk sumber daya manusia yang aktif, kreatif, inovatif sesuai dengan perkembangan zaman.
3. Memberikan pelayanan terbaik terhadap pendidik dan anak didik serta masyarakat sekolah
4. Membangun citra sekolah sebagai mitra terpercaya di masyarkat.
5. Melaksanakan manajemen sekolah yang transparan dan bermartabat.
3.  Tujuan umum pendidikan Sekolah Dasar Negeri  009  Tembilahan Hulu
1. Membentuk siswa yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta memiliki akhlak yang  mulia.
2. Siswa sehat jasmani dan rohani.
3. Siswa memiliki dasar-dasar pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.
4. Mengenal dan mencintai bangsa, masyarakat, dan  budaya bangsa.
5. Siswa kreatif, terampil, dan bekerja keras  untuk dapat mengembangkan diri secara terus menerus.

B. Subjek dan Objek Penelitian
   1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian yang penulis ambil adalah 3 orang guru Pendidikan agama Islam yang ada di Sekolah Dasar Negeri 009 Tembilahan Hulu ditambah dengan siswa kelas 5 dan 6 berjumlah 60 orang yang ada di Sekolah Dasar Negeri 009 Tembilahan Hulu Kecamatan Tembilahan Hulu.
2. Objek Penelitian
      Adapun objek dalam penelitian ini adalah penggunaan media dalam pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri 009 Tembilahan Hulu dan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan media dalam pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama Islam
C. Populasi dan Sampel
Menurut  A.P.Handono  populasi  adalah  himpunan  yang  lengkap  dari  satuan – satuan  individu  yang  karakteristiknya  ingin  kita  ketahui.  Banyaknya  individu  atau  elemen  yang  merupakan  anggota  populasi  disebut  sebagai  ukuran  populasi  dan  disimpulkan   dengan N.[1]
Sedangkan sampel penelitian sering didefinisikan sebagai bagian dari populasi[2]. Yang menjadi populasi penelitian ini adalah  Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri 009 Tembilahan Hulu, yaitu sebanyak  3 orang, dan murid kelas 4, 5 dan 6 yang berjumlah 60 orang karena penelitian ini kurang dari 100 populasi, maka penulis tidak menggunakan sampel.



D. Data, Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data
1. Data
Adapun data yang akan digali dalam penelitian ini ada dua macam yaitu data Pokok dan data penunjang.
a. Data Pokok yang meliputi:
1) Data tentang penggunaan media oleh guru Pendidikan Agama Islam meliputi Intensitas Penggunaan media pengajaran, Kemampuan guru dalam menggunakan media, dan lain-lain.
2) Data tentang faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan media oleh guru pendidikan Agama Islam di SD Negeri 009 Tembilahan Hulu, meliputi ketersediaan media pembelajaran, metode yang digunakan, tujuan pembelajaran, waktu yang tersedia dan kondisi siswa, dan tanggapan siswa tentang penggunaan media.
b. Data penunjang yakni meliputi:
1)      Sejarah Berdirinya Sekolah
2)      Keadaan guru, kepala sekolah, keadaan siswa, keadaan sarana dan prasarana yang dimiliki SD Negeri 009 Tembilahan Hulu serta data-data penunjang lainnya.
2. Sumber Data
Untuk memperoleh data tersebut di atas, maka penulis mengambil sumber data melalui:
a.    Responden yaitu Kepala Sekolah, 3 orang guru Pendidikan agama Islam dan siswa kelas 4,5 dan 6 berjumlah 60 orang yang ada di               SD Negeri 009 Tembilahan Hulu yang telah dijadikan subjek dalam penelitian ini.
b.    Informan yaitu guru-guru umum, kepala sekolah, yang ada di SD Negeri 009 Tembilahan Hulu.
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam rangka mengumpulkan data di lapangan maka penulis menggunakan beberapa teknik penelitian sebagai berikut:
a. Angket
Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan tertulis yang ditujukan kepada subjek/responden penelitian.[3] Maka pengumpulan data melalui angket yaitu dengan cara Menyebarkan sejumlah pertanyaan yang tertulis kepada responden  untuk diisi sesuai dengan alternatif jawaban yang disediakan.
       Adapun yang menjadi aspek yang ditanya melalui metode pengumpulan data angket adalah:
1.  Apakah Ibu Guru Pernah menggunakan media dalam pembelajaran PAI?
2.  Apakah Ibu Guru Pernah menggunakan media gambar dalam Pembelajaran PAI?
3.  Apakah Ibu guru pernah menggunakan media Overhead Projector (OHP) dalam pembelajaran PAI ?
4.  Apakah Ibu guru pernah menggunakan Media model (boneka) dalam pembelajaran PAI
5.  Apakah Ibu pernah menggunakan media buku pelajaran dalam Pembelajaran PAI?
6.  Apakah Ibu guru pernah menggunakan media yang tersedia mencukupi dalam pembelajaran PAI ?
7.  Apakah Ibu guru pernah menggunakan metode diskusi pada jam pelajaran ?
8.  Apakah guru pernah menggunakan waktu yang cukup dalam penggunaan media ?
9.  Apakah guru pernah menyesuaikan konsisi siswa dalam menggunakan media?
10.       Apakah siswa senang mendapatkan pembelajaran PAI dengan menggunakan media ?

b.  Observasi
Menurut  Burhan  Burgin  observasi  atau  pengamatan  adalah  kegiatan  seharian  manusia  dengan  menggunakan  panca  indra  lainnya  seperti  telinga,  penciuman,  mulut,  dan  kulit.  Karena  itu,  observasi  adalah  kemampuan  seseorang  untuk  menggunakan  pengamatannya  melalui  hasil  kerja  panca  indra  mata  serta  dibantu  dengan  panca  indra  lainnya.[4] Observasi adalah alat pengumpulan data yang dilakukan dengan mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki.[5]
Observasi yaitu pengamatan yang dilakukan secara sengaja, sistematis mengenal fenomena sosial dengan gejala–gejala psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan.[6]

TABEL III.6
OBSERVASI LAPANGAN SEBAGAI BERIKUT
Penggunaan Media Oleh Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri 009 Tembilahan Hulu.
   Nama Guru        : 
   Observasi ke     :  
   Kelas            :  
   Hari/tanggal     : 
   Item Penilaian   :
  1. Tidak Pernah
  2. Jarang
  3. Sering
  4. Selalu

NO
ASPEK YANG DIOBSERVASI
SKOR PENILAIAN
1
2
3
4
1
Guru menggunakan media dalam pembelajaran PAI




2
Guru menggunakan media gambar dalam pembelajaran PAI




3
Guru menggunakan media Overhead Projector (OHP)  dalam pembelajaran PAI




4
Guru menggunakan   media model (Boneka)  dalam pembelajaran PAI




5
Guru menggunakan   media Buku Pelajaran dalam pembelajaran PAI




6
Guru menggunakan media yang  tersedia mencukupi dalam pembelajaran PAI




7
Guru menggunakan metode diskusi pada jam pelajaran




8
Guru menggunakan waktu yang cukup dalam penggunaan media





9
Guru menyesuaikan kondisi siswa dalam menggunakan media





10
Siswa senang mendapatkan pembelajaran PAI dengan menggunakan media





JUMLAH





     
      c. Wawancara

“Wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi secara langsung dari sumbernya”[7] Didalam  kamus  besar  wawancara  atau  interview  diartikan  sebagai  tanya  jawab  dengan  seseorang  yang  diperlukan  untuk  diminta  keterangan  atau  pendapatnya  mengenai  suatu  permasalahan  atau  suatu  hal  untuk  dimuat  didalam  surat  kabar  atau  makalah.[8] Jadi  penelitian  ini   yang  akan  diwawancarai  adalah  Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri 009 Tembilahan Hulu. 
TABEL III.7
  INSTRUMENT WAWANCARA SEBAGAI BERIKUT:
    
NAMA GURU         :
HARI/TANGGAL :
NO
PERTANYAAN
ALTERNATIF
JAWABAN
YA
TIDAK
1
Apakah Guru menggunakan media dalam pembelajaran PAI ?


2
Apakah Guru menggunakan media gambar dalam pembelajaran PAI ?


3
Apakah  Guru menggunakan media Overhead Projector (OHP)  dalam pembelajaran PAI?


4
Apakah  Guru menggunakan   media model (Boneka)  dalam pembelajaran PAI?


5
Apakah  Guru menggunakan   media Buku Pelajaran dalam pembelajaran PAI?


6
Apakah Guru menggunakan media yang  tersedia mencukupi dalam pembelajaran PAI?


7
Apakah Guru menggunakan metode diskusi pada jam pelajaran?


8
Apakah Guru menggunakan waktu yang cukup dalam penggunaan media?


9
Apakah Guru menyesuaikan kondisi siswa dalam menggunakan media?


10
Apakah Siswa senang mendapatkan pembelajaran PAI dengan menggunakan media?



c. Dokumentasi
Menurut  Nana  Syaudin  dukumentasi  adalah  suatu  tehnik  pengumpulan  data  dengan  menghimpun  dan  menganalisis  dokumen – dokumen,  baik  dokumen  tertulis,  gambar,  maupun  elektronik.[9]
Tekhnik ini penulis gunakan untuk memperoleh data tentang gambaran umum lokasi penelitian, keadaan guru, kepala sekolah, Keadaan siswa dan keadaan sarana dan prasarana yang dimiliki serta data-data penunjang lainnya.

E. Tehnik  Analisa  Data
Apabila  data  telah  terkumpul,  lalu  diklasifikasikan  menjadi  dua  kelompok  data,  yaitu  data  kuantitatif  yang  berbentuk  angka – angka  dan  data  kualitatif  yang  dinyatakan  dalam  kata – kata  atau  simbol.  Kata  kualitatif  yang  berbentuk  kata – kata  tersebut  disisihkan  untuk  sementara,   karena akan  sangat  berguna  untuk  menyertai  dan  melengkapi  gambaran   yang  di  peroleh  dari  analisa  data  kuantitatif.[10]
Adapun   teknik   analisa  data  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini  adalah  teknik  deskriptif  dengan  menggunakan  rumus :
      F
P  =      x 100% 
      N

     Keterangan  :
  P  =  Persentase
  F  =  Frekuensi
N  =  Number  of  cases  (banyaknya individu).[11] 
    Kemudian  ditransformasikan  ke  dalam  kalimat yang bersifat  kualitatif dengan  ketentuan  sebagai  berikut :
1.  Dikatakan Sangat baik apabila 81%-100%
2.  Dikatakan Baik apabila 61%-80%
3.  Dikatakan Cukup baik apabila 41%-60%
4.  Dikatakan Kurang baik apabila 0%-40%[12]












[1]A.P.Handhono,Metode Penelitian, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2001 ), hal 4.
[2]Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori-Aplikasi,  (Jakarta: Bumi Aksara, 2006),hal. 119.
[3]Sanapiah Faisal, Format-Format Penelitian, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007), hal. 122-123.
[4]Burhan  Burgin,  Penelitian  Kualitatif, (Jakarta: Kencana  Prenada  Media  Grup, 2009), hal 115.
[5]Cholid Narbuko dan Abu Ahmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hal.70.
[6]Joko Subagyo, Metode Penelitian  Dalam Teori dan Praktik, (Jakarta : Rineka Cipta, 2006), hal.63
[7]Ridwan, Belajar Mudah Penelitian untuk guru, Karyawan dan Peneliti  Pemula, (Bandung: Alfabeta, 2005), hlm.74.
[8]Departemen  Pendidikan  dan  Kebudayaan,  Kamus  Besar  Besar  Bahasa  Indonesia,  (Jakarta : Balai  Pustaka,  2002), Hal 109.
[9]Nana  Syaudin  Sukmadinata, Metode   Penelitian  Pendidikan, (Bandung: PT  Remaja  Rosdakarya, 2006), hal.221.
[10]Suharsimi  Arikunto,  Prosedur  Penelitian  Suatu  Pendekatan  Praktek, (Jakarta: Bumi  Aksara,  2002), Hal 213
[11]Anas  Sudjono,  Pengantar Statistik Pendidikan,            (Jakarta : PT  Raja Grafindo, 2008) hal. 45
[12]Ridwan, Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru. (Bandung: Alpabeta, 2005), hal. 89