Minggu, 07 November 2010

PENDEKATAN-PENDEKATAN FILSAFAT PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG
         Adapun latar belakang penulisan makalah ini adalah untuk kita lebih memahami apa itu filsafat pendidikan yang sebenarnya.
         Salah satunya dengan melakukan pendekatan-pendekatan dalam filsafat pendidikan yang akan penulis uraikan dalam makalah ini. Karena filsafat ini juga termasuk kedalam bahagian-bahagian ilmu pengetahuan manusia yang sangat penting kita manusia harus tahu dan paham tentang ilmu filsafat sebab dengan filsafat manusia bisa mempertajam kesabaran dan keberadaan tentang dirinya khususnya dalam dunia pendidikan.

B.   TUJUAN PENULISAN
         Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan sumber ilmu pengetahuan kepada kita semua dan bagi penulis sendiri khususnya dalam mata pelejaran filsafat pendidikan.

 BAB II
PEMBAHASAN
PENDEKATAN-PENDEKATAN FILSAFAT PENDIDIKAN
1.      Pengertian
Filsafat pendidikan sebagai filsafat terapan, yaitu studi tentang penterapan asas-asas pemikiran filsafat pada masalah-masalah pendidikan pada dasarnya mengenai dua pendekatan  yang polarities.[1]
2.      Macam-macam Pendekatan Filsafat pendidikan
A.    PENDEKATAN PROGRESIF
Pendekatan dalam disiplin ilmu yang disebut filsafat pendidikan akan lebih mudah di pahami arti pengertian bila diajukan pandangan Dewey tentang  pokok masalah, yaitu tentang permasalahan filsafat pendidikan yang berarti hubungan antara filsafat dan pendidikan.[2]
Dapat dilihat dari :
1.      Antara Teori dan Praktek
Pada dasarnya antara teori dan praktek adalah hubungan saling mengontrol, teori akan dikontrol oleh pelaksanaan praktek yang baik, dan sebaiknya praktek dikontrol oleh atau didasarkan pada landasan teoritis yang baik Dewey berpendapat bahwa teori harus merupakan hasil penggalian dalam kenyataan empiris sosiologis yang berlaku saat itu.
2.      Pendekatan Problematis terhadap kenyataan Sosiologis
Seperti apa yang dipercontohkan pada saat ia merumuskan teori pendidikannnya, problema social yang dihadapi dengan cermat dan dengan tepat, merumuskannya kedalam filsafat pendidikannya.

    Berdasar atas kesulitan-kesulitan dan problema yang dihadapi  masyarakatnya ia mencoba merumuskannya kedalam sebuah system pemikiran filosofis, yaitu filsafat pendidikan problematic atau experimentalisme, dalam bentuk pola mental intelektual dan sikap moral kesusilaan.
   Sikap moral yang dianggapnya tepat untuk melestarikan kenyataan perubahan social yang cepat diatas adalah nilai sikap yang menghormati keragaman, pembaharuan, individualitas dan kebebasan inilah yang disebut dengan pendekatan problematis terhadap kenyataan social yang cepat berubah.[3]
3.   Filsafat dan Teori Pendidikan
         Sebagai pokok pikiran ketiga yang tersirat dalam catatan diatas adalah hubungan antara filsafat dengan teori pendidikan. Dan Dewey berkesinambungan bahwa filsafat dirumuskan sebagai teori pendidikan yang bersifat umum dan konsepsional.
         Pendekatan-pendekatan dalam teori pendidikan
       Pendekatan dapat dilihat dari dua sisi, yaitu :
1.Pendidikan sebagai praktek
2.Pendidikan sebagai teori
    Pendidikan sebagai praktek yaitu seperangkat kegiatan atau aktivitas yang  dapat diamati dan didasari dengan tujuan untuk membantu pihak lain ( Baca: peserta didik) agar memperoleh perubahan prilaku.[4]
    Sementara pendidikan sebagai teori yaitu seperangkat pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis  yang berfungsi untuk menjelaskan, menggambarkan, meramalkan, dan mengontrol berbagai gejala dan peristiwa
pendidikan baik yang bersumber dari pengalaman-pengalaman pendidikan (empiris) maupun hasil perenungan-perenungan yang mendalam untuk melihat makna pendidikan dalam konteks yang lebih luas. Diantaranya keduanya memiliki keterkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Praktek pendidikan seyogyanya berlandaskan pada teori pendidikan.[5]
         Demikian pula system pamong dapat dikaitkan dengan nilai dasar kodrat alam, di mana guru dan pendidikan tiada lebih fungsinya sebagai pamong dari anak didik yang sedang menjelajahi perkembangan kodrat alamiahnya. System pamong ini didasarkan pada asas psikologis dalam perkembangan manusia, yaitu kebebasan dan bekerja sendiri.
         Beda antara Deweysme dengan Herbartianisme maupun Dewantaraisme adalah bahwa kedua terakhir ini mendasarkan diri pada filsafat tradisional, termasuk cabang filsafat metafisika, yang mengakui bahwa kenyataan yang bersifat metafisis transendental.
         Tiga bidang pembangunan serempak. Pokok pikiran keempat adalah masalah pembaharuan social, yang harus serempak dan searah tujuan dengan pembaharuan pemikiran filsafat  dan sistem pendidikan, sehingga merupakan tiga bidang atau sektor pembangunan. Sesuai dengan apa yang telah diuraikan pada pokok pikiran kedua, ketiga bidang pembangunan di atas harus diarahkan pada pengembangan sikap moral dan mental yang sama dan berjalan serempak, yang satu bidang tidak boleh mendahului yang lain, apalagi diarahkan ke tujuan yang bertentangan atau berbeda.
         Dengan demikian dan sesuai dengan pokok pikiran yang kelima, yaitu tenaga pengembang sosial, dan peninjauan kembali filsafat system tradisional dalam rangka pembangunan pendidikan, oleh sebab kesamaan arah dan keserempakan pelaksanaannya dari ketiga bidang pembangunan tersebut merupakan akibat dari sebab-sebab yang sama, atau faktor-faktor penyebab yang sama, yaitu tenaga pengembangan sosial, yang terdiri faktor kemajuan ilmu pengetahuan, revolusi industri dan perkembangan demokrasi.
         Gejala keserempakan dan kesamaan sebagai akibat kesamaan faktor-faktor penyebabnya dibuktikan dan diperkuat pendapat Dewey tentang rumusan tujuan pendidikannya, yaitu efesiensi social ( Social efficiency) yang berbunyi “The Power of join freely and fully in shared or common activities,” yang artinya kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan demi pemenuhan kepentingan bersama dan kesejahteraan bersama secara maksimal dan bebas.
         Sebagai penghujung yang lain dari pendekatan  di atas dan dari kontinuitas aliran filsafat pendidikan adalah pendekatan progresif kontemporer dengan dasar-dasar pemikiran, sebagai berikut :
1)      Bahwa dasar-dasar pendidikan adalah sosiologi, atau filsafat sosial humanisme ilmiah, yang skeptis terhadap kenyataan yang bersifat metafisis transcendental
2)      Bahwa kenyataan adalah perubahan, artinya kenyataan hidup yang essensial adalah kenyataan yang selalu berubah dan berkembang.
3)      Bahwa “truth is the man-made”, artinya kebenaran dan kebajikan itu adalah kreasi manusia, dengan sifatnya yang relative temporer bahkan subyektif.
4)      Bahwa tujuan dan dasar-dasar hidup dan pendidikan relative ditentukan oleh perkembangan tenaga pengembangan social dan manusia, yang merupakan sumber perkembangan social masyarakat.
5)      Bila antara tujuan dan alat adalah bersifat kontinu, bahwa tujuan dapat menjadi alat untuk tujuan yang lebih lanjut sesuai dengan perkembangan sosial masyarakat.
         Dua pola dasar pendekatan diatas dapat dibagi menjadi bermacam-macam variasi yang antara lain seperti : religious philosophy of education, humanistic metaphysical philosophy of education, humanistic epistemological philoshophy of education, cultural philosophy  or education, social philosophy or education.[6]

B.   PENDEKATAN TRADISIONAL
         pendekatan ini berbeda dengan pendekatan progresif secara sederhana dapat dijelaskan dengan bahwa pada pendekatan mengakui dan mementingkan dunia sana yang transcendental metafisis yang langgeng, yang menentukan tujuan hidup dan sekaligus tujuan pendidikan manusia, sehingga akan menjadi sumber-sumber dasar nilai daripada filsafat pendidikannya. Sedang tenaga social hanya akan menyediakan saranan, alat dengan mana akan dicapai tujuan-tujuan diatas, dengan kata lain tenaga pengembangan social ini akan memberikan modal dalam penyusunan “ Science of educational” yang diperlukan. Menurut pendekatan tradisional antara filsafat pendidikan dan science of education dibedakan secara tegas, yaitu filsafat metafisika dan tenaga social, sedang pada pendekatan progresif  keduanya bersumber pada kenyataan yang sama, dan satu-satunya, yaitu tenaga pengembang sosial masyarakat diatas.
      Maka dari itu pendekatan progresif hanya berpijak pada teori etika social  dan metode penyesuaian masalah social, yaitu pola dasar sikap moral dan pola dasar sikap mental seperti diuraikan diatas, dan menentang segala hal yang berkaitan tentang kenyataan transcendental metafisis yang spiritual dan di dunia sana di masa mendatang. Sebaliknya pendekatan-pendekatan tradisional, seperti namanya, sangat taat pada sistematika filsafat tradisional, dimana dan  karena itu menempatkan filsafat sebagai dasar pendidikan dan pengajaran. Ini terbukti dengan penempatan filsafat metafisika, yang sangat ditentang oleh aliran pendekatan progresif, sebagai masalah pokok dalam filsafat pendidikan.
      Bagi pendekatan ini, betapapun sulitnya masalah bidang metafisika ini, tetap harus ditempatkan sebagai pusat perhatian pertama dan utama dalam setiap pembahasan filsafat pendidikan. Pendekatan ini berasumsi dasar bahwa tidak dapat dipungkiri, bahwa masalah ini adalah masalah yang abstrak, dan universal sekali, sehingga sulit dipelajari dan dibuktikan kenyataannya, namun tidak berarti bahwa kenyataan yang metafisis itu tidak ada. Assumsi ini menurut para pengusaha ilmu filsafat pendidikan agar apabila kita tidak dapat menemukan segala hal yang bersifat metafisis, tidak berarti kenyataan itu tidak ada, tetapi kesalahan mungkin terletak pada cara-cara mencarinya atau mungkin keterbatasan kemampuan berfikir dan pikiran orang yang melakukannya. Atau mungkin orang tersebut, mendustai dirinya, sadar akan kenyataan tersebut tetapi tidak jujur terhadap kesadarannya sendiri.
      Asas pertama tentang rasionalitas manusia, asas ilmu jiwa daya, asas pembentukan formal teoritis dan asa transfer hasil belajar maka menuntut jumlah dan jenis mata pelajaran yang diperlukan, dan tidak perlu adanya pertimbangan kesesuaian tidaknya dengan kenyataan kehidupan social anak, selama bahan atau bidang studi akan memberikan nilai disiplin mental atau formal yang tinggi. Nilai formal matematika adalah untuk melatih anak  berfikir secara logis rasional matematis, dan bukan dengan tujuan untuk memberikan kepada alat atau instrument dalam menyelesaikan problema hitung-menghitung dalam kehidupan sehari-hari.
      Asas kedua adalah bahwa hakekat jiwa manusia adalah tersendiri atas daya-daya jiwa yang berbeda dan bekerja secara terpisah-pisah atau bersama-sama, yang menimbulkan gejala kesadaran atau tingkah laku. Setiap daya-daya jiwa seperti pengindraan, pengamatan,ingatan, tanggapan, pikiran, dan perasaan akan dapat berkembang dan atau dikembangkan sesuai dengan bahan-bahan pelajaran tertentu. Berdasar jalan pemikiran ini, maka dalam kepustakaan pendidikan dan psikologi pendidikan kita dikenalkan konsep istilah mata pelajaran ingatan, pikiran, hafalan, ekspressi dan mata pelajaran keterampilan.
      Sebagai asas ketiga dan sesuai dengan asas kedua di atas, adalah bahwa nilai fungsional mata pelajaran adalah untuk pembentukan, atau disiplin mental (mental discipline) atau disiplin formal, yaitu nilai formal teoritis intelektual. Sehingga semakin sulit bahan pelajaran semakin tinggi nilai pembentukan mentalnya. Semakin keras ketat latihan-latihan semakin kuat dan besar nilai pembentukannya. Apakah bahan yang disajikan sesuai dengan kehidupan sosialnya, dan digunakan untuk mengadakan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, tidak menjadi masalah bagi aliran ini.
      Oleh sebab itu, aliran tersebut diselesaikan dengan memperkenalkan konsep trnasfer of learning of training, artinya penggunaan  atau pemindahan hasil belajar atau latihan pada mata pelajaran atau bidang kehidupan, yang mungkin positif atau negatif merugikan. Transfer positif adalah apabila penggunaan bidang yang satu mempermudah, memperlancar penguasaan bidang atau mata pelajaran yang lain, dan sebaliknya transfer negatif adalah suatu peristiwa dimana penguasaan satu bidang tertentu mempersulit penguasaan bidang lain, seperti berenang dengan sepak bola. Soal-soal hitungan yang amat sulit tetapi yang tidak ada kaintannya dengan, atau tidak akan dijumpai dalam  kehidupan sehari-hari anak, yang mengarah ke pengembangan nilai materiil praktis, dijejal-jejalkan kepada anak dengan harapan akan mempermudah anak menyelesaikan problema-problema sosialnya.[7]
      Adapun asas-asas filsafat pendidikan dalam pendekatan tradisional secara rinci adalah sebagai berikut :
1)      Bahwa dasar-dasar pendidikan adalah filsafat, sehingga untuk mempelajari filsafat pendidikan haruslah memiliki pengetahuan dasar tentang filsafat
2)      Bahwa kenyataan yang essensial baik dan benar adalah kenyataan yang tetap, kekal dan abadi.
3)      Bahwa nilai norma yang benar adalah nilai yang absolut, universal dan objektif.
4)      Bahwa tujuan yang baik dan benar menentukan alat dan saranan, artinya tujuan yang baik harus dicapai dengan alat sarana yang baik pula.
5)      Bahwa faktor pengembang sejarah atau sosial (science, technology, democracy dan industry) adalah sarana alat untuk  ” prosperity of life” dan bukannya untuk ”welfare of life” sebagai tujuan hidup dan pendidikan sebagaimana yang ditentukan oleh filsafat.























BAB III
PENUTUP
A.  KESIMPULAN
         Dari isi pembahasan yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa dalam masalah filsafat pendidikan diperlukan pendekatan-pendekatan dari filsafat pendidikan itu sendiri diantaranya :
-          Pendekatan Progresif
-          Pendekatan Tradisional

B.   KRITIK DAN SARAN
         Dalam penulisan makalah ini penulis tidak menutup kemungkinan terdapat kesalahan dalam penulisan, penguraian dan penyusunan kata-kata yang mungkin kurang baku dan sempurna.
         Kami mohon kritik dan sarannya yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah yang penulis tulis ini.














DAFTAR PUSTAKA

Drs.Ali Saifullah H.A, Antara Filsafat dan Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, 1977.
Uyoh Sadullo, Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung: PT. Media Iptek, 1994.
Hasan Langgulung, 1986. Manusia dan Pendidikan, Jakarta: Pustaka Al-Husna Ismaun, 2001.
Tim Dosen FIP-IKIP Malang, Pengantar Dasar-dasar Pendidikan, Malang: Usaha Nasional, 1980.







[1]Tim Dosen FIP-IKIP Malang, Pengantar Dasar-dasar Pendidikan, (Malang: Usaha Nasional, 1980), hlm. 61.
[2]Drs.Ali Saifullah H.A, Antara Filsafat dan Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1977), hlm. 121.
[3]Ibid., hlm. 123.
[4]Hasan Langgulung, 1986. Manusia dan Pendidikan, (Jakarta: Pustaka Al-Husna Ismaun, 2001), hlm.
[5]Uyoh Sadullo, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: PT. Media Iptek, 1994.), hlm.
[6]Ibid.,hlm. 63.
[7]Drs.Ali Saifullah H.A ,op.cit.,hlm. 128-131.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar